Kamu sulit Berkembang? Jangan-Jangan Kamu Masih Bertipikal Fix Mindset? Kenali di sini Yukk…

fix mindset

Mari kita perdalam ilmu tentang mindset. jika di artikel sebelumnya (Klik di sini: 5 Ilmu tentang mindset) maka mari kita bahas lebih dalam di artikel ini tentang fix mindset. Jika anda tetap membaca di sini dan tidak memencet tulisan klik “di sini” di atas. Maka saya akan menjabarkan kembali apa itu fix mindset.

Bukan tidak mensyukuri hidup yang saat ini sedang di jalani. Namun semua orang pasti ingin hidupnya berkembang. Baik karir, finansial, hubungan dengan orang lain, mentalitas atau aspek kehidupan yang lainnya. Namun beberapa orang terjebak dikeadaan yang sama untuk kesekian lamanya. Marilah kita bahas tentang:

Kamu sulit Berkembang? Jangan-Jangan Kamu Masih Bertipikal Fix Mindset?

Banyak faktor yang bisa menyembabkan kita untuk tidak berkembang. Namun jika mengutip pada pendapat Dir. Kemahasiswaan UGM bahwa 80% kesuksesan ditentukan oleh softskill. Dan tidak salah jika ada pendapat yang mengatakan jika seseorang sulit berkembang, maka yang perlu diperbaiki adalah mindsetnya, karena mindset adalah bagian terbesar dari softskill tersebut.

Apa yang salah dengan mindset? orang yang masih terhambat dalam berkembang adalah karena ia masih memiliki pola pikir fix mindset.

Pengertian Fix Mindset

Fix Mindset adalah keyakinan seseorang bahwa kualitasnya atau orang lain tidak bisa berkembang lagi dan sudah diputuskan sejak sebelum lahir. Teori ini mengatakan bahwa seseoran gmemiliki beberapa kecerdasan, bakat, dan kepribadian tertentu yang tetap dan tidak bisa dirubah. Teori ini berdasarkan pada pandangan bahwa seseorang yang berpikir bahwa ia bisa terbang seperti superman, kemudian melakukan latihan siang dan malam sekalipun, atau jika mengacu pada teori 10.000 jam dan ia telah melakukan upaya tersebut, maka ia tetap tidak bisa terbang.

Begitupun seseorang yang telah mengikuti test kepribadian, misalnya Kepribadian berdasarkan MBTI (Myers-Briggs Type Indicator), teori kepribadian dari Carl Jung, seorang psikiater asal Swiss. Dikatakan bahwa hasilnya adalah kemudian hasilnya adalah “introvert”, menurut teori tersebut dikatakan bahwa orang yang introvert adalah orang yang senantiasa mendapatkan energi dari dalam dirinya sendiri. Orang dengan tipe ini biasanya lebih mudah lelah bila harus berlama-lama berinteraksi dengan orang lain.

Atau kebalikannya, jika hasilnya “extrovert”, maka ia akan senantiasa lebih dominan mendapatkan energi jika berintaraksi dengan orang lain. Ia akan mudah lelah jika bekerja sendirian dan tidak bertemu dengan orang lain. Orang yang extrovert akan lebih optimal jika bekerja secara tim. Semakin baik lingkungan sosialnya, maka akan semakin baik kinerjanya.

Orang yang beraliran fix mindset, setelah mengetahui bahwa ia memiliki bakat tertentu, maka ia tidak akan menerima tantangan yang diluar potensinya. Orang yang tahu bahwa ia seorang introvert relatif menjauhkan diri dari orang lain. Begitupun sebaliknya, bila ia extrovert, maka ia tidak akan bekerja ketika ia sendirian.

Karakteristik Fix Mindset

Mari kita bahas lebih jauh mengenai karakteristik apa saja yang termasuk ke dalam fix mindset. Di atas kita sudah membahas bahwa orang yang bertipikal fix mindset memiliki keyakinan jika kecerdasan, bakat atau talenta, karakter bahkan nasib adalah sebagia sebuah keturunan yang sudah tidak bisa dirubah.

Jika seseorang tahu bahwa ia tidak mempunyai bakat berbisnis, maka ia tidak akan mencoba untuk mempelajarinya sama sekali karena tahu bahwa usahanya tidak akan menghasilkan.

Ia cenderung hanya mempelajari hal-hal yang menurutnya mudah karena sesuai dengan bakatnya. Bahkan ketika ia sudah mengetahui bakatnya sekalipun, lalu ia menemui kesulitan dalam mengasah bakatnya, maka ia akan berhenti berusaha dan akan mencari bakat dia yang sebenarnya kemudian dia akan bertanya ke dirinya sendiri”sebenarnya apa sih bakat gue?”.

Mereka meyakini jika segala sesuatu yang diupayakan terasa mudah dan ringan untuk dilakukan, namun sangat menghasilkan atau kita merasa nyaman ketika mengerjakannya, itulah bakat kita sebenarnya.

Mereka terbiasa menghindar dari rintangan yang mereka hadapi. Jika rintangan tersebut sulit untuk ditaklukkan, bukannya berusaha menyelesaikannya, ia malah menyerah dan mengatakan “mungkin ini bukan bakat saya”. Kemudian dia akan menghindari masalah tersebut dan mencari bakat atau bidang yang ingin dia geluti lainnya.

Perjalannya hanya akan habis dengan mencari dan mencari bakat yang sebenarnya. Mereka sangat mudah putus asa. Saat mereka tahu bakat yang seharusnya mereka perjuangkan sekalipun, kemudian mereka menemukan kejenuhan atau perjuangan yang melelahkan, mereka akan berputus asa dan mengatakan “Mungkin cukup sampai segini kemampuan saya”.

Orang yang bertipikal fix mindset berasumsi jika usahanya tidak akan membuahkan hasil. Mereka akan mudah mengatakan “Sekeras apapun kita berusaha, kalau Allah hanya memberikan kita jatah segitu, ya hanya segitulah yang kita dapat”. Maka mereka tidak pernah benar-benar berusaha karena sangat meyakini apa yang didapatnya saat ini, sekeras apapun berusaha, jika jatah dari tuhannya hanya segitu, ya tidak akan bertambah lagi.

Mereka senantiasa berpikir terbatas akan pemberian Allah. Seperti, Jika Allah hanya menakdirkan kita mendapatkan seharinya Rp. 10.000, mau kita berusaha dengan keras, atau tanpa berusaha sekalipun, kita akan tetap dapatnya Rp. 10.000. Akhirnya ia tidak pernah benar-benar mengeluarkan effort yang benar-benar membuatnya bia berkembang.

Orang bertipikal fix mindset pun biasanya tidak menghiraukan kritikan. Memang kita harus memilah mana kritikan yang membangun, mana kita kritikan yang menjatuhkan. Namun berbeda dengan orang bertipikal fix mindset, ia senantiasa berpikir bahwa kritik dari seseorang tidak ada gunanya, karena orang yang memberikan kritik hanya ingin menjatuhkannya.

Ia senantiasa tidak memperdulikan kritik dari orang lain. Semua kritik tidak diindahkan olehnya sama sekali. Atau sebaliknya, ketika ia mendapat kritik, ia menerima sepenuhnya dengan perasaan jengkel atau benci. Ia merasa sudah melakukan yang terbaik dan orang lain yang memberikan kritik hanya ingin menjatuhkan atau menjelekkannya saja.

Orang dengan tipikal fix mindset selalu beranggapan bahwa kesuksesan yang didapatkan oleh orang lain hanya akan mengancam dirinya. Ia akan melihat bahwa kesuksesan yang didapatkan oleh orang lain adalah karena keturunannya. Ia akan mengatakan “wajar dia sekarang kaya, karena ia lahir dari keluarga kaya”. Ketika orang lain sukses dan bukan berasal dari orang kaya, Ia akan mengatakan “dia tidak kaya, tapi dia pintar, jenius, sedangkan aku biasa saja”.

Jika kesuksesan tersebut datang disekitarnya, maka ia akan benar-benar merasa terancam, menganggap orang lebih sukses darinya melakukan pesugihan lah, babi ngepet, atau nikah dengan orang kaya, dl-nya. Ia tidak akan senang dengan pencapaian baik orang lain dan menganggapnya sebagai sebuah bawaan atau takdirnya belaka.

Anda Juga Bisa Membaca:

Meningkatkan Produktifitas Kerja Dengan Bermalas-Malasan?

Masih Mager Setelah Liburan? ini dia 9 Tips Ampuh dan Terbukti Meningkatkan Produktifitas Kerja Setelah Liburan Panjang

5 Tips Menjaga Stamina dan Meningkatkan Konsentrasi Saat Puasa

Kenapa Orang Masih Bertipikal Fix Mindset?

Jika melihat indikator atau karakteristik fix mindset di atas, maka menjadi seseornag dengan tipikal fix mindset sangatlah merugikan. Namun pertanyaannya, kenapa seseorang bisa bertipikal fix mindset? Mari kita bahas satu per satu.

Di artikel sebelumnya (baca: 5 Ilmu tentang Mindset) pada bagian hal-hal yang mempengaruhi mindset, sedikitnya sudah ada bocoran tentang bagaimana sebuah mindset bisa terbentuk. Diantaranya adalah lingkungan kelaurga, hubungan dengan orang lain, pendidikan, dan belief sistem.

Adapun yang hal-hal yang menjadi penyebab seseorang bertipikal fix mindset adalah merasa diri terbebas dari persoalan, ingin berubah, tapi tidak mengerti metodenya, tak ingin berubah meski tahu metodenya, takut perubahan akan membawa resiko negative, tidak mengerti metode yang benar untuk dapat masuk di pemikiran bawah sadar, teknik therapy yang kurang pas.

Merasa Terbebas dari Masalah

Orang bertipikal fix mindset biasanya membebaskan diri dari masalah yang seharusnya dia hadapi. Ia menganggap bahwa masalah tersebut bukan tanggung jawabnya. Masalah tersebut tidak disebabkan olehnya, tetapi disebabkan kesalahan oleh orang lain.

Jika ada gelas yang disenggol olehnya, maka ia akan marah dan menyalahkan orang yang menyimpan gelas di tempat tersebut. Bukannya memperbaiki diri untuk lebih berhati-hati, dirinya malah mencari kambing hitam orang lain.

Mereka menganggap bahwa semua masalah yang ada di sekitarnya bukan karena kesalahannya. Harus ada yang bertanggung jawab dan memperbaiki keadaan, tapi yang jelas bukan dia.

Ingin Berubah, Tapi Tidak Mengerti Caranya.

Terkadang, setelah ia mengetahui bahwa sikap seperti di atas adalah sikap seorang fix mindset, lalu ia ingin berubah, tapi tidak tahu caranya.

Di artikel sebelumnya, penulis sudah membahas 10 cara agar kita berubah dari fix mindset menjadi growth mindset (Baca: 10 Cara agar terbebas dari fix mindset).

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah berfokus pada proses, bukan pada hasil. Banyak orang terjebak dengan kesuksesan orang lain, ia ingin meraih hall yang sama, tapi ia hanya melihat kesuksesannya saja tanpa melihat prosesnya.

Seorang Jack ma mengatakan,

“Jangan belajar dari kesuksesan seseorang, belajarlah dari kegagalan-nya”

Pesan tersebut menegaskan bahwa jangan sampai kita terfokus kepada apa yang sudah dicapai orang lain, tapi melupakan bagaimana caranya berjuang.

Mulailah untuk bertanya kepada sebanyak mungkin orang. Jika orang tersebut sukses”Apa kegagalan yang pernah kamu alami? bagaimana cara bangkit dari kegagalan tersebut”. Jika orang tersebut sedang terpuruk, maka pertanyaannya adalah “Mengapa kamu gagal? Apa hikmah yang kamu dapatkan dari kegagalan tersebut”.

Cara lainnya bisa pembaca lihat di artikel sebelumnya. Baca di sini : 10 Cara agar terbebas dari fix mindset.

Tak Ingin Berubah Meski Tahu Metodenya

Ini penyakit fix mindset berikutnya. Meski dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan, karena merasa tidak nyaman dan biasa dengan metodenya, ia memutuskan untuk tidak melakukannya.

Padahal di dalam agama Islam sudah dijelaskan,

 العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَرٍ

-Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah-

Bayangkan, kita sudah menanam pohoon bertahun-tahun yang kita harapkan suatu saat kita bisa memetik buahnya dan menjualnya ke pasar. Tapi yang terjadi adalah pohon tersebut tidak berbuah untuk kesekian lamanya. Pasti hati kita kesal dibuatnya.

Jika kita sudah mengetahui cara agar menjadi orang yang growth mindset, tapi kita tidak melakukannya? untuk apa ilmu tersebut? berapa waktu yang kita habiskan untuk mencari tahu dan membaca ilmu tersebut?

Sampai kapan kita akan terjebak dengan fix mindset? dan sampai kaman akan seperti itu?

Seorang Pandji mengatakan,

Kejarlah mimpimu sampai kau mendapatkannya, karena mimpi tidak akan pernah bisa padam. Jika kamu tidak mengejarnya, semangatnya akan terus tertanam dan membara dalam dirimu hingga hari tuamu, ia akan bangkit dan berubah menjadi penyesalan.

-Pandji Pragiwaksono dalam Sule Podcast-

Jika kamu tidak mengamalkan metode ilmu-ilmu yang telah kamu pelajari, kemudian kamu tidak berkembang dan mencapai apa yang kamu inginkan. Maka hari tuamu akan dipenuhi dengan penyesalan.

Anda Juga Bisa Membaca:

Meningkatkan Produktifitas Kerja Dengan Bermalas-Malasan?

Masih Mager Setelah Liburan? ini dia 9 Tips Ampuh dan Terbukti Meningkatkan Produktifitas Kerja Setelah Liburan Panjang

5 Tips Menjaga Stamina dan Meningkatkan Konsentrasi Saat Puasa

Takut Perubahan akan Membawa Resiko Negative

Ini adalah penyakit akut hampir semua orang. Mereka takut jika perubahan yang akan mereka lakukan hanya akan membuat keadaan semakin buruk.

Padahal, meskipun kita tidak melakukan perubahan, waktu akan terus berubah, badan kita akan terus berubah, segala sesuatu akan terus berubah.

Jika kamu takut kerusakan atau kegagalan atas perubahan yang akan kamu lakukan. Maka ada satu quote dari orang bijak yang mengatakan,

Mengapa seseorang bisa meraih kesuksesan dengan lebih cepat dibandingkan kamu yang sulit berkembang? Ia bukan tidak pernah gagal, tapi ia mengalami gagal lebih banyak dan lebih cepat daripada siapapun, ia terus mencoba meski tidak pernah tahu hasilnya akan seperti apa.

Jika kamu tetap di zona nyaman, mungkin kamu tidak akan pernah merasakan panasnya bara api, tapi kamu juga tidak akan pernah bisa membuat karya dengan api tersebut. Kamu hanya akan menjadi manusia nol yang tidak ada harganya.

Beranilah mencoba, hadapi setiap tantangan, jika gagal, ambillah pelajaran.

Seorang Pandji, lagi-lagi Pandji, ia mengatakan,

“saya tidak pernah menyesal atas semua kegagalan dan kesalahan yang pernah dilakukan jika kegagalan atau kesalahan tersebut mengajarkan sesuatu”

Pasti ada ilmu dari kegagalan yang pernah atau akan kamu hadapi, keep Going.

Anda Juga Bisa Membaca:

Meningkatkan Produktifitas Kerja Dengan Bermalas-Malasan?

Masih Mager Setelah Liburan? ini dia 9 Tips Ampuh dan Terbukti Meningkatkan Produktifitas Kerja Setelah Liburan Panjang

5 Tips Menjaga Stamina dan Meningkatkan Konsentrasi Saat Puasa

Recommended For You

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *